Rahasia Kesuksesan Pembangunan Gedung: Ikhlas dan Istiqomah (part 2)

Menyambung dari apa yang telah disampaikan oleh perwakilan dari Yayasan sebelumnya. Khadim Ma’had Syaraful Haramain KH. Abdurrahman, MA memberikan sambutan dan menyapa kembali para tamu undangan, wakifin, muhsinin, muhsinat, para asatidz dan ustadzaat, serta para santri banin dan banat masih diberikan kesempatan untuk menghadiri Khutbatul ‘Arsy, masa orientasi baru yang diikuti santri lama, sekaligus peresmian penggunaan masjid baru.

 فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (TQS. An Najm Ayat 32)

Ya, inilah pesan beliau dalam sambutannya untuk senantiasa menjaga  keikhlasan dalam beramal atas apa yang dicapai hingga hari ini.

Beliau juga menyampaikan dalam kesempatan ini, bahwa semua ini ada karena Allah, karena keikhlasan semua pihak. Jikalau bukan karena keikhlasan semua pihak yang terlibat dalam proyek besar ini. Maka semua ini takkan pernah ada. Begitupun para wakifin dengan ikhlas melepaskan haknya, mulai dari tanah hingga uangnya yang dibelanjakan sehingga menjadi komplek Ma’had Syaraful Haramain. Semua berangkat dari keikhlasan.

Jikalau bukan karena keikhlasan maka immposible. Begitu juga tim pembangunan yang mengerjakan proyek bangunan gedung kedua dan masjid dapat terwujud dalam waktu singkat selama 6 bulan. Sebagaimana pembangunan gedung pertama dan rumah asatidz juga dalam waktu 6 bulan. Belum lagi waktu untuk pembebasan lahan dan tantangannya.

 

Maka pertanyaannya, dari mana semua itu bisa terwujud? Tentu hanya dari Allah SWT. Secara teori memang mudah, rejeki uang berasal dari Allah SWT. Lalu bagaimana menjemput rejeki tersebut? Inilah yang tidak bisa dijawab, karena tentunya yang bekerja adalah bahasa Iman. Inilah yang diajarkan guru-guru kami di pesantren. Sebagaimana pesan gurunda kepada santri yang berada di kota Apel, Kota Batu. Beliau menyampaikan nanti akan ada kebun apel yang dapat menghidupi pesantren dan bisa membiayai pesantren. Kemudian beliau langung menyampaikan, kita tidak boleh bersandar pada apel, tapi kita wajib bersandar pada Allah SWT. Pesan itulah yang kemudian beliau hujamnya secara langsung di dalam hatinya.

Saat mendapat tawaran membangun pesantren bersama dengan Ustadz Felix Siauw, kemudian bertemu dengan Bos Tanah yang memiliki banyak uang, maka dalam perjalanan pulang kami ceritakan kisah ini, agar hati kami tidak berpaling dari Allah SWT.

Ketika memulai pembangunan gedung yang pertama hingga gedung yang ketiga ini, apa yang kami hitung secara matematika akan menghasilkan sesuatu, nyatanya tidak dapat kami wujudkan. Karena Allah SWT mengajarkan bahwa pertolongan itu bukan dari manusia, tapi pertolongan itu datangnya dari Allah SWT, ini adalah pelajaran berharga dan penting. Bahwa kita tidak boleh berharap kepada orang, baik orang kaya, sebanyak apapun perusahannya. Allah lah yang menggenggam hati dan memberikan pertolongan.

Ma’had Wakaf Syaraful Haramain ini dibangun bukan berasal dari sponsor apapun, tapi dibangun atas dasar keikhlasan karena iuran 100.000 perorang. Ma’had ini dibangun oleh keikhlasan orang-orang yang bekerja siang dan malam memikirkan Ma’had ini, yang sudah mewakafkan waktunya, tenanganya, dan keluarganya, inilah rahasia keberhasilannya, tidak ada yang lain. Ketika kita sudah menyandarkan hati kita kepada Allah, maka jangan sekali-kali berpaling. Manusia bisa membuat rencana, tapi rencana itu takkan pernah berhasil kecuali dalam genggaman Allah. Mungkin secara hitungan manusiawi ikhtiar kita belum maksimal, tapi Allah memberikan itu karena kuatnya koneksi hati kita.

Rahasia doa itu ada pada tikrar (pengulangan) dan istiqomah. Maka beliau pun senantiasa mengingatkan santrinya untuk senantiasa istighfar minimal 100 kali insyaAllah Allah SWT akan memberikan kemudahan. Ma’had ini berdiri karena keikhlasan dan pertolongan Allah SWT, bukan karena individu-individu, bukan karena kehebatan satu atau dua orang. Jikalau kita mendapat kemenangan maka harus beristighfar, kenapa? Karena biasanya jika sudah mendapat kemenangan, maka menepuk dada, naudzubillah.

Ma’had ini bukan sekedar Ma’had biasa. Tapi untuk menyempurnakan fardlu kifayah dan menuntut ilmu bagian dari hukum syara tersebut. Maka harus ada action-nya untuk menyempurnakannya. Kelak akan ditanya oleh Allah SWT, apa yang telah kamu lakukan untuk Ummat Muhammad disaat Ummatnya membutuhkan uluran tanganmu. Ma’had ini bukan untuk bisnis, jika ada yang mendapat kesulitan untuk membayar biaya Pendidikan, maka Ma’had akan membantu menyelesaikannya. Ma’had telah memberikan beasiswa senilai 300 juta untuk angkatan pertama.

Oleh karena itu tujuan di Ma’had ini adalah menyempurnakan fardlu kifayah yang belum disempurnakan oleh guru-guru kita sebelumnya. Visi Ma’had Syaraful Haramain adalah untuk mencetak para ulama yang kredibel, yang kelak akan kembali memimpin peradaban dunia dengan Islam sebagaimana dalam al-Qur’an surat al Fath, as Shaff, dan at Taubah. Disinilah Ma’had Saraful Haramain ingin mengambil peran untuk mewujudkan peradaban Islam.

Untuk mengingatkan Kembali kepada Abah dan Ummah, Ananda dikirim ke Ma’had untuk dididik menjadi ulama. Sebagaimana banner di pintu masuk Ma’had ditulis “ke MSH, apa yang kamu cari?” untuk apa? Agar senantiasa mengingatkan Ananda pada nilai seseorang itu ada pada apa yang di acari. Jika datang ke Ma’had untuk menjadi ulama, insyaAllah Allah akan beri jalan untuk menjadi ulama yang bersyakhsiyyah Islam.

Oleh karena itu Pendidikan di Ma’had Syaraful Haramain sangat disiplin dan sangat keras dengan dibekali tsaqafah Islam luas. Sehingga motto MSH adalah santri MSH, adab luhur, wawasan luas, dan berkribadian kuat. Lahirlah generasi yang memiliki tsaqafah yang mumpuni yang didukung dengan kurikulum yang tela dimodifikasi dengan kurikulum mesir. Sehingga santri harus menghafal dan menguasai thufahtul atfal dan matan jazari. Yang kedua, mencetak ulama yang menguasai fikih, pemikiran, politik, dan leadership. Dan ini adalah satu rangkaian yang tak bisa terpisahkan, jika terpisahkan maka akan menjadi orang yang dungu, orang yang mau menjual agama untuk dunianya. Bahkan masyaikh al Azhar Mesir pun takjub dengan santri MSH. Yang keempat adalah mencetak ulama yang berakhlak, adab yang luhur, dan berdedikasi yang tinggi untuk Allah, Rasul dan agamanya. Memiliki ilmu adalah untuk memuliakan Allah SWT dengan mengamalkan ilmu.

Tujuan Ma’had ini dibangun adalah untuk membangun dan membekali santri dan mahasantri dengan kepribadian Islam sebagai kepribadian ulama melalui pembentukan aqliyah dan nafsiyah Islam yang baik dan benar. Kami membentuk habits dengan riyadhoh (latihan) bangun tahajud berjamaah jam 02.00 WIB dengan minimal 1 juz. Semoga lingkungan disekitarnya akan mendapatkan berkahnya. Dari hal kecilpun kami perhatikan seperti kerapihan dan kelengkapan seragam. Maka output dari pesantren ini diharapkan bukan ahlul ilmi, tetapi al ulama al aamilun. Oleh karena itu kurikulum di Ma’had ini lebih berat dibandingkan dengan pondok lainnya. Doakan kami agar dapat mewujudkan visi dan misi Ma’had Syaraful Haramain.

Leave a Comment

fourteen + 12 =